Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

Jumat, 24 Juni 2011

Bendera Palestina dan Sejenisnya: Bendera Petaka dan Pemberontak

Jumat, 24 Juni 2011
Mudah saja bagi kita untuk langsung mengatakan bahwa bendera hitam bergambar tengkorak dan tulang bersilangan itu adalah bendera Bajak Laut. Mereka para perompak. Namun apakah akan selancar itu lidah kita untuk menyebutkan bendera-bedera para pemberontak yang lain? Rasanya tidak.

Bendera merupakan kata serapan dari bahasa Portugis, bandeira adalah sepotong kain yang dipakai sebagai wahana untuk menggambarkan simbol sebuah negara. Di dalam bendera terdapat makna, harga diri, kehormatan, dan status. Misalnya bendera Indonesia; Sang Saka Merah Putih. Entah sudah berapa nyawa menjadi tumbal hingga bendera dwiwarna itu bisa eksis berkibar di negeri ini. Makanya tidaklah mengherankan jikalau ada bnedera-bendera lain yang ingin berkibar sama tinggi dengan Merah Putih, orang akan berduyun-duyun untuk merintangi hal itu.

Dari kacamata Jakarta, setiap pihak yang ingin melepaskan diri dari NKRI adalah pemberontak dan bendera yang mereka usung adalah benderanya para pemberontak. Titik! Mengibarkan bendera GAM di Aceh, bendera Bintang Kejora di Papua, atau bendera RMS di Maluku pastinya akan membuat berang Jakarta dan itu artinya Anda telah menabuh genderang perang!

Sikap serupa juga pasti akan di lakukan Beijing terhadap bendera Singa Salju (Tibet), Manila terhadap MILF, New Delhi terhadap Kashmir, Moscow terhadap Chechnya, Madrid terhadap Catalan dan Basque, dan yang lainnya. Terlepas dari daerah-daerah itu diperoleh melalui penjajahan atau tidak, Memang demikianlah seharusnya sikap pemerintah yang punya harga diri. Hanya pengecut tak bernyali yang akan mendiamkan ada pihak-pihak yang ingin memecah belah kesatuan negara.





Begitu pula yg dirasakan Kekhilafahan Ustmaniyah sekitar dua abad yang lalu terhadap gerakan-gerakan pemberontak kala itu. Racun nasionalisme yang sengaja ditanamkan Barat di tubuh Daulah Islam secara perlahan hidup di pekarangan umat. Arab, Mesir, India, Persia, Kurdi, Balkan dan sebagainya diprovokasi agar memisahkan diri dari “rezim tiran” di Istanbul. Sebaliknya kepada bangsa Turki dihembuskan pula hasrat mencukupkan diri mengurus bangsa Turk saja, buat apa harus bercapek-capek mengurusi orang Afrika yg berkulit hitam atau orang Armenia yg suka cari masalah itu? Buat apa?

Para pemberontak yg notabene-nya merupakan antek Barat dan pengkhianat kaum muslimin ini begitu gencar merong-rong negara Islam. Sebagaimana juga para pemberontak di belahan dunia lain, mereka juga bersatu di bawah naungan sebuah bendera. Tahukan Anda Bendera Petaka tersebut berwarna apa? Warnanya Merah, Putih, Hitam, dan Hijau. Itulah bendera para pemberontak. Bendera para pengkhianat yg “sukses” memecah-belah Negara Islam. Sampai sekarang bendera petaka itu masih tetap eksis menjadi bendera nasional beberapa negeri kaum muslimin khususnya di Timur Tengah, seperti: Mesir, Suriah, Kuwait, Palestina, Sudan, Iraq, UEA, Yaman dan Yordania.



Bendera Yordania (bahasa Arab: علم الأردن) didasarkan pada bendera Pemberontakan Arab terhadap Kekaisaran Ottoman selama Perang Dunia I. Bendera ini terdiri dari tiga garis melintang (hitam, putih dan hijau) yang terhubung oleh sebuah segitiga merah di bagian kiri. Warna melintang melambangkan Kalifah Abbasiah, Umayyah dan Fatimiah. Segitiga merah untuk dinasti Hashemit dan Pemberontakan Arab. Bintang berujung tujuh, yang merupakan fitur satu-satunya yang membedakan bendera Yordania dari Palestina, memiliki dua arti: berarti ketujuh ayat dari surah pertama Qur'an, dan juga persatuan rakyat Arab. Beberapa orang percaya bintang itu merujuk pada tujuh bukit dimana Amman, ibukota Yordania, dibangun. (sumber:wikipedia)

Akan tetapi bukan pemberontak namanya kalau tidak licik. Kelicikan mereka berhasil mengelabui sebagian besar kaum muslim sehingga kita tidak merasa benci terdadap bendera petaka tadi. Bahkan banyak juga saudara2 kita yang malah dengan bangga menyematkannya di dada. Naudzubillah!

Saya benci para pemberontak sebab Rasulullah saw pernah berpesan: “siapa saja yg datang kepada kalian, sementara urusan kalian berkumpul di tangan seseorang (khalifah), kemudian dia hendak merobek kesatuan kalian dan memecah-belah jamaah kalian, maka bunuhlah” (HR Muslim)



Hadist ini menjelaskan bahwa ketika kondisi kaum muslimin sebagai satu jamaah dibawah kepemimpinan seorang khalifah, lalu datang seorang/kelompok yang ingin merobek kesatuan kaum muslim dan memecah-belah jamaah mereka, maka membunuhnya adalah wajib. Mahfum hadist ini juga menunjukkan larangan berbilangnya Negara kaum muslim sekaligus larangan memisahkan diri dari Negara (khilafah); meskipun untuk itu harus digunakan kekuatan senjata.

Pertanyaannya adalah apakah kita akan senantiasa mengangkat bendera palestina tersebut padahal ada bendera yang laik kita kibarkan dan menyatukan ummat. Apakah kita hanya peduli dengan Palestina saja sementara Afghanistan, Iraq, Moro, Thailand Selatan, Aljazair, dan ratusan juta kaum muslim dalam bahaya. Masihkah kita bangga akan nasionalisme kita.



Saudara-saudara sekalian, sudah tiba waktunya bagi kita berjuang bersama di bawah bendera Rasulullah. Sekali lagi; bendera Rasulullah saja! Yang demi menegakkannya beliau dan para sabahat rela Hijah. Yang untuk mepertahankannya Mush’ab bin Umair syahid dengan tangan terpotong diperang Uhud. Yang agar dia tak jatuh ke tanah, Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi thalib, dan Abdullah bin Ruwahah meregang nyawa di perang Mu’tah . Yang bersamanya Khalid bin Walid membebaskan Persia dan Romawi. Bendera yang telah berkibar selama 1302 tahun. Mari berjuang agar ar Roya dan al Liwa kembali berkibar di seluruh dunia. Allahu Akbar!


Bendera Palestina


Bendera Yordania


Bendera Kuwait


Bendera Islam Ar-royah


Penulis:MA. Husnari

Editor: Irhaby El-falimbani

http://www.facebook.com/notes/media-islam-online/bendera-palestina-dan-sejenisnya-bendera-petaka-dan-pemberontak/10150092279879549

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Follow me in the Fb

Followers

Page Range

Mutiara Kata

“Kita asyik dengan pertarungan militer, sukses menempa hati ikhlas, berhasil menciptakan cinta mati syahid. Tetapi, kita lalai memikirkan kekuasaan (politik). Kita tak sepenuh hati menggelutinya. Kita masih memandang bahwa politik adalah barang najis. Akhirnya, kita sukses mengubah arah angin; kemenangan dengan pengorbanan yang mahal bisa kita raih. Tetapi, menjelang babak akhir, saat kemenangan siap dipetik, musuh-musuh melepaskan tembakan ‘rahmat’ untuk menjinakkan kita.” (Tokoh Jihad Afghan-Arab)